Kalau ke kota Malang mungkin kampung yg jadi "must visit" adalah kampung warna-warni dan kampung 3D. Well, bener sih kampung itu memang hits banget. Banyak objek foto instagramable tapi disini aku mau cerita satu kampung lagi yg menurutku "must visit" juga. Kampung glintung. Ya coba googling deh tentang kampung glintung aka kampung 3G (Glintung Go Green). Kampung itu ada official websitenya jadi masalah sejarah berdirinya kampung 3G kamu bisa baca di website tersebut. Gak perlu aku jelasin lagi disini karena nanti ujung-ujungnya juga copas, hehe.
Apa yg menarik dari kampung 3G yg berada di kecamatan Blimbing ini? Kenapa harus kesana? Kalau menurutku ketika aku masuk ke gang RW 23 nuansa sejuk khas Malang tempo dulu terasa banget berkat banyaknya tanaman hijau ditempat ini. Bersih banget dan tidak seperti gang pada umumnya yg biasanya tampak kumuh, disini ditiap rumah terlihat rapi, bersih jadi betah disini. Nenek-nenek yg aku temui saat menelusuri gang ini juga terlihat bahagia, tentram gitu terlihat dari senyumnya. Bagi sebagian orang mungkin gak interest buat mengunjungi kampung 3G ini tapi kalau aku suka banget, selain hawa sejuk yg didapat, tenang meskipun gang ini sebenarnya letaknya persis dipinggir jalan raya yg rame lalu lalang kendaraan, kita bisa belajar banyak hal disini. Cara merawat tanaman, gotong-royong dan pentingnya menjaga lingkungan. Kampung 3G termasuk kampung edukatif, dengan harapan banyak visioner yg mau dan bisa menerapkan konsep go green ala kampung 3G di daerah asal masing-masing.
Kalau maen kesini, jangan buang sampah sembarangan dan tetap jaga lingkungan.

28 Maret 2017, hari libur nasional karena merupakan hari Nyepi. Tanggal merah di akhir bulan mau kemana ya? Yang pasti dengan low budget. Alhamdulillah gw tinggal dikota wisata Malang, yaudah libur sehari doang nanggung kalau ke luar kota, liburan di Batu aja. Bagi sebagian orang Batu itu wisata mainstream tapi buat gw sebagai pendatang tetap exciting. Udah bisa ditebak apa yang bikin kesel kalau ke Batu (atau tempat wisata apapun) kalau pas hari libur, ya macet. Untung hawa sejuk Tlogomas - Batu bisa cooling down gw yang macet-macetan. Saat gw macet-macetan tiba-tiba gw teringat macet di Bogor dan Lembang, bedanya kalau di Bogor kita macet di mobil (angkot) dan rame-rame bareng temen2 organisasi, di Lembang gw disetirin jadi no problem tapi kalau di Batu ini gw nyetir jadi ya gitu deh.
Tujuan pertama gw ke Paralayang, omah kayu dan taman kelinci. Kenapa 3 sekaligus? Ya karena lokasi mereka 1 kompleks. Bagusnya Batu ya gini, seperti terintegrasi jadi 1 tempat ada beberapa spot wisata yang ditawarkan. Eh disitu ada kebun strawberry juga kalau gak salah tapi gw gak interest karena belum tau detail. Fyi, sebelum gw ke tempat wisata mostly gw searching dulu apa yang ada di objek wisata itu, apa yang menarik dan apa yang bisa gw lakuin disitu selain foto-foto.
Taman kelinci lokasinya ada dibawah (sebelum masuk paralayang) tapi kalau gw mending ke Paralayang dulu. Masuk komplek wisata Paralayang ditarik htm Rp 5.000/orang dan Rp 3.000/motor untuk parkir. Dari TPR ke paralayang ataupun ke omah kayu masih jauh. Jalannya batu (makadam) dan naik turun plus macet karena kebetulan hari libur. Menurut gw ya, jumlah lahan parkir yang tersedia dengan jumlah kendaraan pengunjung gak imbang. Lahan parkir sempit dan pengunjung membludak jadilah mobil-mobil parkir dibahu jalan yang notabene jalannya udah rusak, naik turun, macet masih ditambah sebagian jalan digunain buat parkir 😢. Btw, pas gw kesana sedang ada pengerjaan paving, ya semoga beberapa bulan ke depan kalau gw kesana lagi jalannya udah membaik jadi meskipun pengunjung bawa sedan/city car gak takut ground clearence nya mentok kena batu. Asal drivernya OK aja gak perlu fwd buat melibas medan Paralayang ini 😊.
Sesampainya diparkiran atas dekat paralayang dan omah kayu ekspetasi gw ada parkiran yang layak (maksudnya ada atapnya) eh ini gak ada, bahkan gw waktu itu gak ngelihat jukir. Untung gw bukan cewek manja yang apa-apa tergantung laki, gw rapiin beberapa motor supaya gw ada space buat naruh motor. Pertanyaan gw, biaya parkir 3rb tadi buat apa??
Dari parkiran atas kalau ke kanan itu ke arah paralayang, tempat lo bisa lihat view kota Batu dan Malang dari ketinggian sambil melihat orang melakukan terjun payung as know as Paralayang. Disini sejuk banget, enak banget deh. Gw bayangin kalau malem-malem di Paralayang sama pasangan sambil lihat bintang dengan sedikit polusi cahaya trus dengerin lagunya Coldplay (yellow, a sky full of star) what a beautiful moment! Gak tau kenapa kalau gw lihat pemandangan yang luas kayak di pantai, puncak gunung atau kayak di Paralayang ini gw sejenak jadi mikir "subhanallah, ciptaanmu ya Allah" kayak merenung kalau kita sebenarnya cuma makhluk kecil yang ada di dunia dan gak pantas sedikitpun sombong 😊.
Lanjut ke omah kayu, selain cocok untuk foto-foto instagram spot ini juga cocok untuk latihan fisik. Jadi inget waktu pramuka dulu, kan ada materi penjelajahan, setelah ke omah kayu jadi tau fungsinya dulu kita dikasih materi penjelajahan untuk apa 😊. Gw asyik-asyik nih jalan menuju omah kayu tiba-tiba diberhentiin sama bapak2 untuk bayar tiket (lagi). 5rb/orang. Owalah ada bayar tiket lagi kirain 1 kompleks bayarnya cukup sekali 😂.
Gw gatau jumlah keseluruhan "omah" di omah kayu ada berapa. Selain gak ngitung juga gak ada papan yang menjelaskan detail disitu ada berapa "omah" dan sewaktu pulang gw dikasih tau penjual bunga katanya spot yang bagus untuk foto ada di omah nomor 1. Gw gatau omah nomor 1 itu diposisi mana, lagi-lagi kita perlu site map dan minimal tiap rumah ada nomornya jadi kita gak bingung, kita foto di omah nomor berapa.
Ditiap omah ada peraturan yang tertulis jelas maksimal kapasitas di omah kayu ada berapa orang. Sayangnya kebanyakan orang kita, tiba2 menjadi buta huruf ketika dihadapkan peraturan itu. Ada yang melebihi kapasitas, disaat pengunjung membludak mbokya toleransi, jangan nongkrong santai di omah kayu apalagi pacaran lama disitu, selesai foto2 baiknya segera out supaya gantian sama pengunjung lain dan omah kayunya awet karena gak overload. Yuks disiplin, tertib dan saling empati dalam menikmati alam 😊.
Sebelum gw ke omah kayu dengan sotoy nya gw pernah merekomendasikan temen gw yang baru menikah dan mau bulan madu di Malang untuk menginap di omah kayu. Well, bukan tanpa alasan, gw ngelihat di internet omah kayu bagus utk menginap apalagi buat yang honeymoon. Sejuk, sepi dan alam banget. Ekspetasi gw, kalau omah kayu disewa buat nginep maka omah itu akan ditutup/steril atau dijaga privasinya dari pengunjung umum yang sekedar foto in fact ternyata enggak. Kalau omah itu disewa cuma ada tulisannya "ada tamu" tapi pengunjung umum bebas tuh foto-foto disitu 😢. Di tiap omah kirain ada kamar mandinya ternyata gak ada, waduh bisa berabe dong kalau malem-malem pas kebelet ke kamar mandi tapi kamar mandinya jauh dari omah yang disewa, harus naik turun, gelap, dihutan 😢. Btw, ini sepengetahuan gw ya kalau ada yang salah tolong dikoreksi 😊.
Saran untuk pengelola omah kayu (kalau mereka baca)
Di tiap omah, tolong diberi petugas tidak hanya sekedar tulisan peraturan jadi tidak terjadi overload yang membahayakan karena omah kayu bisa roboh dan supaya gak ada orang yang kelamaan berada di omah kayu tanpa peduli antrian yang menunggu giliran foto banyak. Lalu kalau ada penyewa omah kayu tolong area tersebut steril dari pengunjung umum, ya supaya privasi penyewa terjaga. Kita juga perlu site map.
Pulangnya karena hujan, gw gak jadi ke taman kelinci. Bisa kapan-kapan lagi 😊
Sekian cerita hari libur di tanggal merah Nyepi, 28 Maret 2017.

Penambahan fitur ig story dan live streaming beberapa bulan yang lalu oleh pihak instagram membuat orang-orang makin sibuk dengan gadget. Membuat orang biasa berasa kayak artis yang punya banyak fans karena talenta. Pernah ya aku makan di Mie Jogging Suhat, aku liat mbak-mbak makan tapi di live-kan. Aku bingung sama mbak itu, motivasinya apa makan aja tapi di live-kan? Dan ada yang nonton (??). Didaerah depan Unikama, kalau pagi macetnya udah kayak Jln Moh Toha Pasar Baru Tangerang. Udah macet gitu, masih ada mbak-mbak naik motor sambil pegang hp buat video.  Sepertinya mau di upload di ig story dengan tulisan "macet di depan unikama" plis mbak, yang kamu lakuin selain membahayakan karena gak fokus antara pegang hp dan nyetir motor juga menambah macet, harusnya bisa maju pelan tapi justru berhenti buat ngrekam video. Aku jadi mikir, segitu pentingnya kah eksistensi didunia maya? aku gak anti sosmed, bahkan bisa dibilang aku "gila" sosmed sejak SMA. Jaman kuliah, awal-awal ig hampir tiap hari aku post foto. Entah bermutu atau gak yang penting posting foto demi label "keren". Aku ikut wwim, di Jogja dan di Surabaya itu saking aktifnya aku di ig. Well, makin kesini aku makin mikir, sebegitu bergantungnya kah aku sama sosmed demi label "hits"? aku ngepath dimana tempat aku makan, aku foto dan upload di path yang disambungkan ke twitter dan aku upload juga di ig. aku alay! Aku berteman dengan bule, dia punya fb tapi jarang banget aktif, meskipun dia kenal aku dia gamau confirm. Kenapa? Karena bagi mereka fb itu hanya untuk family and close friend. Gak kayak kita ya yang banyak2kan temen fb meskipun gak kenal asal confirm aja. Dia juga gak begitu interest di sosmed, bule bilang hal aneh ketika di hp ada 3 sosmed. So dia hanya punya email dan fb untuk berkomunikasi. Email pun akan dibalas ketika selesai kerja (free time). Gak kayak kita yang kebanyakan waktunya untuk main sosmed. Mereka lebih prefer membaca buku daripada otak-atik hp untuk main sosmed. Mungkin gak semua bule seperti dia tapi intinya aku ambil hal positifnya, mereka gak tergantung dengan sosmed, mereka me-manage waktunya untuk hal yang memang lebih berguna. Baru-baru ini aku juga baca caption panjang SarSeh tentang postingan terakhir di ig. Aku merasa lebih meant-full ketika melakukan sesuatu gak demi sosmed contohnya makan ya makan aja, gausah pakai gaya makan di tempat A demi update path. Aku makan ya karena lapar dan mungkin memilih tempat A ya karena murah, enak. Memang agak susah tapi aku udah mulai melepas ketergantungan/kecanduan terhadap sosmed demi lebih banyak baca, nulis dan mikir hal positif (jodoh). Gunain sosmed sah-sah aja, bahkan presiden juga punya akun twitter tapi yang perlu diingat gunakan dengan bijak jangan over.
Sesuai namanya "Warung Cengkeh" ini beralamat di Jalan Cengkeh, barat indomaret Dewandaru, Kota Malang. Tempatnya kecil tapi asri. Gw suka, karena rumah khas jaman dulu kayak bikin gw nostalgia ditambah lagi beberapa barang antik yang jadi ornamen. Bersih dan Bapak penjualnya yang ramah banget bikin gw makin suka dengan warung ini. Cukup merogoh kocek 7rb saja untuk menikmati seporsi nasi pecel yang menurut gw enak dan porsinya pas. Warung ini gak begitu rame jadi enak banget untuk makan sekaligus ngelihat perabotan antik dan si Bapak juga suka muter lagu-lagu era 80an jadi berasa flashback ke masa lalu yg gak ada demo-demo isu SARA. Mari sarapan, banyak belajar, jangan pakai kacamata kuda dan toleransi.




Sebagai anak kost, sudah pasti dituntut untuk mengelola keuangan sebijak mungkin. Salah satu post yang bisa dihemat adalah MAKAN. Makan sih tetap 3 kali sehari dan kalau bisa bergizi serta murah, haha. Kebiasan gw kalau pulang kerja stalking akun ig (@ngalamkuliner) untuk mencari rekomendasi makan malam. Kali ini pilihan gw jatuh pada Mie Lada Hitam. Kenapa? Murah, non msg and less salt (healthy), porsi pas, lokasinya kebetulan deket sama tempat gw. Mie Lada hitam ada di Jalan D.I Pandjaitan nomor 20, Malang (search aja di google maps, ada kok). Harganya murah mulai 9rb, tergantung mau toping aja. Jualnya pakai gerobak dipinggir jalan jadi mudah dicari. Meskipun pakai gerobak tapi gak kumuh lho, bersih. Mie lada hitam cocok banget dimakan waktu hujan (Malang kan udah terkenal dingin apalagi pas musim hujan gini tambah nikmat). Wadahnya pakai cup kecil kayak di yoshinoya. Rasanya juga enak, cobain deh kalau penasaran. Ada rekomendasi tempat makan yg asyik dan murah? Share dikolom komentar ya




Waktu masih jadi mahasiswa aku gak pernah teliti pipet ukur tipe apa yg aku gunain dulu, pokoknya apa yg ada di laboratorium aku pakai utk praktikum. Nah, pas udah kerja kebetulan kerjanya ada hubungannya dengan laboratorium jadi tau kalau ternyata pipet ukur itu ada 2 tipe yaitu Mohr dan Serological. Waktu aku iseng search di google dengan keyword "apa perbedaan pipet ukur tipe mohr dan serological" aku gak menemukan website atau blog yang menjelaskan secara detail (Januari 2017),  paling mesin pencari cuma mengarahkan ke laman tentang perkenalan alat lab. Tapi waktu aku search dengan keyword "what difference between mohr and serological pipette" barulah muncul beberapa laman yang emang menjelaskan perbedaan 2 tipe pipet ukur tersebut. Buat kalian yang males baca artikel dalam bahasa inggris, semoga penjelasan aku dibawah ini sedikit membantu.

Menurut sepengetahuan aku, pipet ukur tipe mohr itu selalu menyisakan sedikit larutan dibagian bawahnya sedangkan pipet ukur tipe serological tidak ada larutan yang tersisa di dalam pipet ukur. Misal kita punya pipet ukur tipe mohr dan serological yang masing-masing ukurannya 10ml. Kalau Mohr skalanya 0 - 10 ml, jadi nanti kalau buat memipet larutan pasti di dalam pipet ukur ada sisa sedikit dibagian ujungnya. Larutan itu gak bisa dikeluarin (sulit) karena memang didesign seperti itu. Tapi jangan khawatir, karena larutan yang kamu pipet ukurannya pasti 10ml. Sedangkan kalau Serological, skalanya 0 - 9, waktu kamu memipet nanti larutannya akan habis sama sekali (tidak ada sisa larutan didalam pipet ukur).

Masing-masing tipe pipet ukur mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Kalau Mohr, misal kamu habis memipet larutan HCl kemudian pipet ukurmu kamu pakai lagi utk memipet Ammonia kalau nyucinya gak bersih bisa terkontaminasi meskipun dalam skala kecil terkontaminasinya. Sedangkan kalau serological, gak perlu khawatir terkontaminasi misal digunakan untuk berbagai larutan dan nyucinya kurang bersih karena tidak ada larutan tersisa dalam pipet ukur. Cuma kalau serological skalanya agak membingungkan (untuk aku) tertulisnya 10 ml tapi skalanya cuma sampai 9 ml, kalau misal mau pipet 5 ml pakai pipet ukur serological kapasitas 10 ml harus dihitung manual. Ya sebenarnya gak repot banget sih cuma enakan pakai pipet ukur tipe mohr kalau aku sih. 

Kalau kalian mecahin pipet ukur jangan lupa dilihat tipe apa dulu ya, supaya gak salah beli. Laboran yang teliti gak mau lho, pipet ukur lain tipe padahal fungsinya juga sama. Dan kalau beli pipet ukur, kamu ngomongnya 25 ml tapi di skalanya cuma 24 ml jangan langsung bilang kesalahan produksi dari pabrik, itu pipet ukur tipe serological yang kamu beli. 

Semoga bermanfaat dan kalau ada yang salah tentang penjelasan aku bisa di comment, nanti aku edit lagi :)

Update : 
Mungkin dengan contoh gambar di bawah ini, akan mempermudah kalian dalam memahami perbadaan pipet ukur mohr dan serological 

Pipet ukur serological, kapasitas 10 ml tetapi skala sampai angka 9

Pipet ukur mohr, kapasitas 5 ml tertulis di skala juga 5 ml


01.45 WIB
Aku kerja di daerah Suhat (Soekarno-Hatta) Malang. Baru pindah sih 2 bulan lalu. Ekspetasi sebelum pindah ke Malang (sebelumnya Jogja, Tangerang, Surabaya) pasti enak nih kotanya, kota wisata kayak Jogja yang berhati nyaman. Gak macet, banyak pengemis, gelandang, kriminalitas rendah dan kampung kumuh. Well, hampir benar sih semua ekspetasi aku selain pengemis (setiap kota pasti punya plus dan minusnya masing-masing). Di Malang, banyak pengemis, khususnya daerah kerjaku ya di Suhat. Bahkan pengemis adalah profesi! This is fact, didepan tempat kerja aku kebetulan ada tanah kosong tanpa pagar dan ditumbuhi alang-alang disitulah tempat mereka (pengemis jadi-jadian) ber-make over. Yaps, ibu-ibu muda (umur sekitar 28thn) dengan rambut rebonding blonde (serius, ini gak bohong) turun dari angkot membawa anak kecil umur 4 taun pakai pakaian normal (bahkan bisa dibilang bagus). Setelah berubah (ganti baju) di alang-alang bimsalabim mbak tadi jadi gembel dengan pakaian lusuh, compang-camping, pakai kerudung untuk menutupi perawatan rambutnya dan si anak juga pakai baju jelek lalu di gendong. Pengamatan aku ya, mbak tadi beroperasi di daerah suhat tiap sabtu pagi. Itu hanya satu cerita, masih ada cerita lain. Deket mie setan ada indomaret, kebetulan aku lagi ke indomaret dan ngelihat bapak-bapak yang biasanya ngamen di tempat kerjaku tukar uang receh banyak banget dan beli rokok. Artinya apa? Bapak itu gak miskin, cuma miskin aja mentalnya dan gamau punya kerjaan yang jelas. Fisik bapak tadi gak cacat, sehat dan kuat, kalau menurut aku mending jadi kuli bangunan daripada ngamen atau minta-minta. Btw, sejak saat itu Bapak tadi gak pernah ngamen di tempat aku (maksudnya dilewatin aja, malu mungkin kedoknya kebuka atau males juga karena aku gak pernah kasihan sama model kayak gini jadi gak pernah kasih uang). Bapak ini rutin juga, ngamen daerah suhat. Nenek-nenek pengemis, yang begini nih kadang aku suka kasihan dan ngasih tapi sebelum aku ngelihat sendiri di ruko sebelah tempat kerja yang kebetulan kosong digunain mereka ganti baju (maksudnya mereka ganti baju di depan ruko ya, pakai baju double gitu). Nenek tadi sama ibu-ibu (mungkin anaknya) dan cucunya jadi kayak semacam keluarga pengemis. Ironi ya, maksudnya mereka gak cacat fisik tapi kenapa cacat mentalnya? Ibu-ibu ini bisa lho cuci piring di warung atau pembantu, itu pekerjaan terhormat. Tapi kenapa mereka milih jadi pengemis? Mungkin karena putaran uangnya lebih banyak, jam kerja fleksibel, modal tampang melas doang. Kenapa orang-orang males gini ya, presidennya aja semangat maju kok sebagian rakyatnya modelnya begini? Satu hal yang aku benci dan heran banget dari pengemis jadi-jadian, kenapa mesti bawa anak kecil? Mau mencetak generasi cacat mental? Emang sih kalau bawa anak, rasa belas kasihan sebagian orang nambah tapi kalau aku sih justru gak kasihan. Karena kalau dikasihani dan dikasih uang, si anak akan tetap jadi "alat penghasil uang" si anak gak dapet haknya untuk sekolah, bermain dan belajar banyak hal. Siapa tau juga anaknya dibius biar ngantuk, jadi enak diatur dan diajak ngemis keliling, kasihan :( please kalau emang terpaksa harus ngemis, jangan bawa anak, anak biar sekolah jadi mereka bisa memiliki kesempatan menjadi manusia yang lebih baik dan bermartabat. Aku berharap ngemis bukan pilihan hidup ataupun profesi bukan juga tuntutan, asal ada kemauan kerja halal insyallah ada jalan. Dinsos Kota Malang ini PRmu. Partisipasi yang bisa aku lakukan adalah dengan TIDAK MEMBERI UANG KE PENGEMIS, biar mereka kerja lain yang lebih baik dan terhormat.
Disclaimer: semua yang aku tulis disini adalah opini pribadi, gak ada maksud menjatuhkan pihak lain. Foto? Jujur aku gak ada foto, karena pas aku ngelihat mereka aku kerja jadi gak sempat take pict. Tunggu updatetan selanjutnya kalau ada foto, aku sisipin. Semoga Indonesia bebas dari profesi pengemis.
02.34 WIB